| 9 Sungai Menjadi Emiter Karbon | | Print | |
| Written by prakarsa team | |||
|
Aktivitas manusia mengakibatkan delapan sungai di Jawa dan Sungai Musi di Sumatera tercemar karbon. Tingkat pencemaran karbon itu melebihi pencemaran karbon sejumlah sungai besar di negara maju, seperti Sungai Rhine, Loire, atau Sungai Tiber di Eropa, Sungai Yukon di Kanada, dan Sungai Niger di Afrika. Kesembilan sungai itu adalah Sungai Ciujung (Cilegon, Jawa Barat), Cisadane (Tangerang, Banten), Serayu dan Citanduy (Cilacap, Jawa Tengah), Bengawan Solo (Gresik, Jawa Timur), Cimanuk (Indramayu, Jawa Barat), Brantas (Surabaya, Jawa Timur), Citarum (Bekasi), serta Musi (Tanjung Api-api). Sembilan sungai itu telah menjadi pelepas karbon—salah satu gas rumah kaca—ke atmosfer. Hal itu disampaikan Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian pada lokakarya internasional Climate Information Services in Supporting Mitigation and Adaptation to Climate Change in Infrastructure and Health Sectors di Jakarta, Senin (29/3). Pencemaran karbon itu ditelitinya pada 2005-2009 dengan mengukur pencemaran karbon sedimen hilir sembilan sungai itu.
”Besaran pencemaran karbon sangat ditentukan oleh banyaknya aktivitas manusia dan jenis aktivitas. Delapan sungai besar di Jawa tercemar karbon karena aktivitas rumah tangga, pertanian, industri, transportasi sungai, juga penangkapan ikan,” kata Edvin.
Sungai Bengawan Solo volume karbon organiknya terlarut tertinggi, mencapai 342.000 ton per tahun. Sungai Brantas dan Ciujung juga tercemari karbon organik terlarut masing-masing 154,7 ribu ton dan 85,3 ribu ton per tahun.
”Volume pencemaran karbon organik terlarut itu lebih rendah daripada di hilir Sungai Niger di Afrika yang 910.000 ton per tahun atau Sungai Yukon di Kanada yang tercemari hingga 800.000 ton per tahun. Namun, daerah aliran sungai kita jauh lebih kecil daripada sungai besar lain di dunia sehingga volume karbon itu menimbulkan pencemaran yang tinggi,” kata Edvin.
Tingkat pencemaran karbon organik terlarut tertinggi terjadi di hilir Sungai Ciujung, 44 ton per kilometer persegi per tahun karena aktivitas industri pengolahan baja menghasilkan banyak karbon. ”Pencemaran Sungai Niger 0,59 ton karbon organik terlarut per kilometer persegi per tahun. Karbon di Sungai Yukon berkisar 0,95 ton per kilometer persegi per tahun,” kata Edvin.
Ia menyatakan, dengan tingkat pencemaran setinggi itu, sembilan sungai itu telah menjadi emiter karbon sehingga menambah tebal gas rumah kaca.
”Konsentrasi karbon di Sungai Brantas bisa 9.000 ppm, dengan rata-rata 4.000 ppm sampai 5.000 ppm. Di Sungai Musi konsentrasi karbon rata-rata 2.000 ppm dan bisa mencapai 7.000 ppm. Dengan konsentrasi setinggi itu, secara kualitatif bisa dipastikan sembilan sungai itu telah menjadi emiter—pelepas karbon ke atmosfer yang menjadi gas rumah kaca. Tetapi, secara kuantitatif belum bisa dihitung berapa volume emisi karbonnya,” kata Edvin.
Selaku pembicara dalam lokakarya itu, ahli mangrove dari Universitas Diponegoro, Dr Rudhi Pribadi, menjelaskan, hutan mangrove bisa menjadi alternatif penyelamatan kawasan pesisir dari kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim. ”Mangrove juga memiliki kemampuan menyerap karbon melalui proses fotosintesis. Dalam konteks pencemaran karbon di sungai, mangrove memiliki kemampuan menahan sedimentasi berkandungan karbon agar tidak terbawa ke laut,” kata Rudhi. Dia mengatakan, kemampuan mangrove menyerap karbon di dalam air sungai belum diteliti. (ROW/ http://www.kompas.com)
|
| Today | 28 |
| Yesterday | 37 |
| Month | 311 |
| All | 53044 |
| (C) Fliesenstadt | |
Donasi dan sumbangan dapat diberikan kepada Perkumpulan Desa Mandiri melalui rekening BRI Nomer 3751-01-000103-50-9 a/n PUNDEN
